Kesalahan Laporan PKL yang Sering Dibahas di PKL Susu
Artikel ini tidak ditulis dari sudut pandang teori akademik semata. Isinya dirangkum dari pengalaman nyata siswa, catatan pembimbing, dan pola kesalahan yang terus berulang—bahkan pada siswa yang merasa sudah “mengikuti contoh”.
1. Laporan PKL Terlalu Umum dan Tidak Spesifik
Kesalahan paling sering adalah laporan yang terdengar rapi, tetapi kosong secara pengalaman. Banyak siswa menulis aktivitas PKL dengan kalimat generik seperti:
“Membantu kegiatan operasional perusahaan dan belajar sistem kerja digital.”
Di PKL Susu, laporan seperti ini hampir selalu dikritik. Alasannya sederhana: pembimbing ingin melihat apa yang benar-benar kamu lakukan, bukan apa yang seharusnya dilakukan oleh peserta PKL ideal.
Contoh Perbaikan yang Lebih Manusiawi
- Menyebutkan tools yang digunakan (Google Sheets, Meta Ads Manager, Canva, dll)
- Menjelaskan kesalahan awal dan proses belajar
- Menyertakan hasil nyata, meskipun kecil
Laporan yang jujur tapi spesifik jauh lebih bernilai dibanding laporan “terlihat pintar” namun kosong.
2. Bab Kegiatan PKL Tidak Sinkron dengan Tempat Magang
Ini kesalahan yang sering dianggap sepele, tetapi dampaknya besar. Misalnya:
- PKL di UMKM offline, tapi laporan membahas SEO dan Facebook Ads
- PKL di toko online kecil, tapi laporan seperti agensi digital besar
Di forum diskusi PKL Susu, banyak siswa mengaku mengambil materi dari contoh internet tanpa menyesuaikan kondisi lapangan. Ini membuat laporan terlihat tidak autentik.
3. Terlalu Fokus Format, Lupa Cerita Lapangan
Ironisnya, sebagian siswa sudah sangat rapi dalam margin, spasi, dan font—tetapi isi laporannya tidak punya “cerita”.
Pembimbing sebenarnya tidak mencari laporan sempurna. Yang mereka cari adalah:
- Ada proses belajar
- Ada kesalahan dan perbaikan
- Ada refleksi pribadi
Salah satu pembimbing yang sering dikutip di PKL Susu pernah mengatakan:
“Kalau semua terasa mulus, justru saya curiga.”
4. Data dan Dokumentasi Asal Ada
Banyak laporan PKL hanya menampilkan dokumentasi untuk memenuhi syarat, bukan untuk mendukung cerita. Foto kegiatan tidak dijelaskan, tabel data tidak dianalisis.
Padahal, dokumentasi yang baik seharusnya:
- Menjelaskan konteks kegiatan
- Menjadi bukti proses, bukan pajangan
- Selaras dengan narasi di bab kegiatan
5. Kesimpulan PKL Terlalu Normatif
Hampir semua laporan PKL memiliki kesimpulan yang sama:
“PKL memberikan pengalaman berharga dan menambah wawasan dunia kerja.”
Kalimat ini tidak salah, tetapi tidak cukup. Di PKL Susu, kesimpulan yang dianggap kuat biasanya menyebutkan:
- Apa yang awalnya tidak dipahami
- Apa yang ternyata sulit di lapangan
- Apa yang berubah dari cara berpikir sebelum dan sesudah PKL
Opini Jujur: Kesalahan Terbesar Bukan di Teknis, Tapi di Kejujuran
Jika ditarik benang merah, sebagian besar kesalahan laporan PKL bukan karena siswa tidak mampu menulis, tetapi karena:
- Takut terlihat “tidak pintar”
- Takut mengakui kebingungan
- Terlalu ingin meniru contoh ideal
Padahal, laporan PKL yang paling diapresiasi justru yang jujur, relevan, dan kontekstual. Tidak harus hebat—asal nyata.
Baca Juga di PKL Susu
- PKL Digital untuk Pemula: Dari Tidak Bisa Menjadi Paham
- PKL Digital Marketing: Panduan Lengkap
- PKL Digital Marketing: Apa Saja yang Dikerjakan?
- Dasar Pengelolaan Keuangan UMKM untuk PKL
- Contoh Profil Perusahaan untuk Laporan PKL
Penutup
Jika laporan PKL Anda terasa “aman” tetapi sulit dipertahankan saat ditanya pembimbing, kemungkinan besar ada bagian yang terlalu dibuat-buat.
Di PKL Susu, satu prinsip selalu diulang: laporan PKL bukan tentang terlihat sempurna, tetapi tentang menunjukkan proses belajar yang nyata.

0 Comments:
Posting Komentar
Punya pendapat, pengalaman, atau pertanyaan seputar topik ini?
Silakan tinggalkan komentar yang relevan dengan artikel.
Komentar yang berkualitas membantu diskusi semakin hidup dan bisa jadi tambahan insight buat pembaca lain.
🚫 Mohon hindari link aktif, spam, atau promosi berlebihan. Semua komentar akan dimoderasi dulu sebelum tampil.
🙏 Terima kasih sudah ikut berbagi ide di blog ini PKL SUSU. Diskusi sehat = ilmu makin luas.