Kesalahan Siswa Saat PKL yang Sering Terjadi (Refleksi Nyata dari PKL Susu)
PKL seharusnya menjadi jembatan antara sekolah dan dunia kerja. Namun, berdasarkan pengalaman langsung mendampingi dan mengamati siswa di berbagai tempat—termasuk ekosistem PKL Susu—banyak siswa justru mengulang kesalahan yang sama. Menariknya, kesalahan ini jarang dibahas secara jujur di modul sekolah atau artikel formal.
Artikel ini tidak ditulis untuk menghakimi, tetapi untuk membuka realitas. Beberapa poin mungkin terasa tidak nyaman, namun justru di situlah nilai belajarnya.
1. Menganggap PKL Hanya Formalitas Administratif
Kesalahan paling klasik: siswa datang ke PKL dengan mindset “yang penting absen dan laporan jadi”. Di PKL Susu, pola ini sangat mudah terlihat—siswa aktif di minggu pertama, lalu masuk mode autopilot.
Masalahnya, dunia kerja tidak pernah menilai formalitas. Yang dinilai adalah inisiatif, pola pikir, dan hasil nyata.
Dampak Nyata:
- Tidak punya cerita pengalaman saat wawancara kerja
- Portofolio kosong meski PKL berbulan-bulan
- Nilai aman, tapi skill stagnan
Opini jujur: PKL tanpa ambisi belajar sama saja dengan libur berkedok pendidikan.
2. Pasif dan Menunggu Perintah
Banyak siswa mengira bersikap diam itu sopan. Di dunia kerja—termasuk di lingkungan digital PKL Susu—diam justru sering dianggap tidak tertarik atau tidak siap.
Ironisnya, siswa yang terlalu takut salah justru kehilangan kesempatan belajar paling berharga.
Contoh Kasus Nyata:
Ada siswa PKL digital marketing yang selama 2 bulan hanya mengerjakan tugas copy-paste, padahal akses belajar terbuka. Alasannya sederhana: “tidak disuruh”.
Padahal, inisiatif kecil seperti bertanya, mengamati, atau mencoba tools sederhana sering menjadi pembeda.
3. Salah Memahami Etika Digital dan Profesional
Di era digital, kesalahan PKL tidak selalu bersifat fisik. Banyak siswa PKL Susu melakukan kesalahan etika digital tanpa sadar.
Kesalahan Umum:
- Menggunakan akun kerja untuk keperluan pribadi
- Menganggap data perusahaan sebagai “bebas pakai”
- Terlalu santai di chat profesional
Kesalahan ini jarang ditegur langsung, tapi sering dicatat secara diam-diam.
Catatan kritis: Dunia kerja modern lebih toleran pada kesalahan teknis dibanding sikap tidak profesional.
4. Fokus Laporan, Mengabaikan Proses
Ironisnya, banyak siswa PKL lebih sibuk memikirkan laporan akhir dibanding proses belajarnya. Di PKL Susu, laporan seharusnya menjadi refleksi, bukan sekadar dokumen formal.
Laporan yang baik lahir dari proses yang aktif—bukan dari template.
Solusi Praktis:
- Catat kesalahan harian, bukan hanya keberhasilan
- Tulis apa yang tidak dipahami, bukan yang terlihat pintar
- Gunakan laporan sebagai alat berpikir, bukan formalitas
5. Tidak Membangun Jejak Digital dan Portofolio
PKL digital tanpa jejak digital adalah peluang yang terbuang. Banyak siswa PKL Susu sebenarnya mengerjakan hal menarik, tetapi tidak pernah mendokumentasikannya.
Padahal, satu artikel refleksi, satu studi kasus sederhana, atau satu proyek kecil bisa menjadi modal besar setelah lulus.
Pandangan pribadi: Di era sekarang, pengalaman yang tidak terdokumentasi hampir dianggap tidak pernah ada.
Apa yang Seharusnya Dipelajari Siswa dari PKL Susu?
- Cara berpikir, bukan hanya cara bekerja
- Etika profesional di dunia nyata
- Keberanian mencoba dan bertanya
- Tanggung jawab terhadap hasil
PKL Susu bukan tentang sempurna, tetapi tentang bertumbuh secara realistis.

0 Comments:
Posting Komentar
Punya pendapat, pengalaman, atau pertanyaan seputar topik ini?
Silakan tinggalkan komentar yang relevan dengan artikel.
Komentar yang berkualitas membantu diskusi semakin hidup dan bisa jadi tambahan insight buat pembaca lain.
🚫 Mohon hindari link aktif, spam, atau promosi berlebihan. Semua komentar akan dimoderasi dulu sebelum tampil.
🙏 Terima kasih sudah ikut berbagi ide di blog ini PKL SUSU. Diskusi sehat = ilmu makin luas.