Pengalaman PKL di UMKM: Catatan Lapangan PKL Susu
PKL di UMKM sering terdengar sederhana: datang, bantu-bantu, lalu pulang. Namun, pengalaman PKL di UMKM Susu justru membuka mata saya tentang betapa kompleksnya dunia usaha kecil. Bukan hanya soal jualan, tapi juga soal bertahan hidup, beradaptasi, dan mengambil keputusan di tengah keterbatasan. Artikel ini adalah catatan lapangan jujur—bukan laporan formal—tentang apa yang benar-benar terjadi di balik etalase usaha kecil.
Latar Belakang: Kenapa Memilih PKL di UMKM Susu?
Awalnya, saya sempat ragu. UMKM Susu terdengar “biasa saja”. Tidak ada mesin canggih, tidak ada ruangan ber-AC, dan tidak ada sistem digital yang rapi. Tapi justru di situlah letak pelajarannya. UMKM adalah laboratorium bisnis paling nyata: semua keputusan berdampak langsung pada kas, stok, dan tenaga kerja.
Di hari pertama, saya langsung dihadapkan pada realita: stok susu datang terlambat, pelanggan menunggu, dan pemilik usaha harus menenangkan semua pihak sekaligus. Di titik itu saya sadar, PKL ini bukan sekadar formalitas sekolah.
Hari-Hari di Lapangan: Antara Teori dan Kenyataan
1. Proses Produksi yang Tidak Pernah Ideal
Di buku pelajaran, alur produksi selalu rapi. Di lapangan, tidak. Ada hari ketika susu datang terlalu encer, ada hari lain ketika pasokan berkurang. Kami harus menyesuaikan takaran, waktu fermentasi, bahkan rasa. Di sinilah saya belajar: standar operasional di UMKM bersifat fleksibel, bukan kaku.
2. Melayani Pelanggan dengan Segala Karakternya
Satu hal yang jarang dibahas di modul PKL adalah emosi pelanggan. Ada pelanggan yang sabar, ada yang perfeksionis, bahkan ada yang marah hanya karena sedotan lupa diberikan. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa pelayanan bukan sekadar senyum, tapi seni membaca situasi.
3. Pengelolaan Keuangan yang Masih Manual
Pencatatan keuangan masih dilakukan di buku tulis. Awalnya saya menganggap ini kuno. Tapi setelah terlibat langsung, saya paham: kesederhanaan sering kali menjadi pilihan rasional bagi UMKM. Meski begitu, di sinilah saya melihat peluang digitalisasi yang sangat besar.
Refleksi Pribadi: Pelajaran yang Tidak Tertulis
Yang paling membekas bukan teknik produksi atau cara melayani, melainkan mentalitas bertahan. Pemilik UMKM Susu ini bekerja hampir tanpa hari libur. Saat penjualan turun, mereka tidak mengeluh—mereka mengubah strategi. Di titik itu, saya merasa malu pernah mengeluh hanya karena tugas sekolah.
Secara jujur, PKL ini mematahkan asumsi saya bahwa bisnis kecil itu “mudah”. Justru di UMKM-lah tekanan paling terasa, karena margin tipis dan kesalahan kecil bisa berdampak besar.
Kritik Jujur: Di Mana PKL UMKM Masih Lemah?
- Minim dokumentasi proses kerja.
- Kurangnya SOP tertulis.
- Belum optimal memanfaatkan teknologi digital.
- Manajemen waktu yang sering keteteran.
Namun, kritik ini bukan untuk menyalahkan, melainkan sebagai catatan bahwa UMKM butuh pendampingan nyata, bukan hanya seminar satu arah.
Ide Tidak Umum: PKL sebagai Proyek Bisnis Mini
Alih-alih hanya “membantu”, PKL di UMKM seharusnya dijadikan proyek bisnis mini. Misalnya:
- Membuat sistem pencatatan digital sederhana berbasis Google Sheets.
- Mengembangkan konten media sosial untuk promosi harian.
- Uji coba kemasan baru dan menganalisis respons pasar.
- Eksperimen varian rasa berbasis data penjualan.
Pendekatan ini membuat PKL lebih hidup dan berdampak langsung bagi usaha.
Opini Jujur: PKL Bukan Sekadar Tanda Tangan
Banyak siswa datang ke PKL hanya untuk absen dan tanda tangan. Menurut saya, ini menyia-nyiakan kesempatan langka. Di UMKM, kita bisa belajar realita bisnis yang tidak diajarkan di kelas. Kalau hanya datang-duduk-pulang, kita kehilangan nilai terbesarnya.
Manfaat Nyata yang Saya Rasakan
- Lebih peka terhadap masalah operasional.
- Memahami pentingnya arus kas.
- Terbiasa mengambil keputusan cepat.
- Lebih menghargai kerja keras pelaku UMKM.
Link Baca Juga
- PKL Digital untuk Pemula
- Panduan Lengkap PKL Digital Marketing
- Apa Saja yang Dipelajari di PKL Digital Marketing?
- Dasar Pengelolaan Keuangan UMKM
- Contoh Profil Perusahaan untuk Laporan PKL
Penutup: Catatan Lapangan yang Mengubah Cara Pandang
Pengalaman PKL di UMKM Susu bukan sekadar kewajiban sekolah. Ini adalah latihan mental, emosional, dan intelektual. Saya belajar bahwa bisnis kecil adalah tulang punggung ekonomi, dan di sanalah pembelajaran paling nyata terjadi.
Jika PKL dilakukan dengan kesadaran penuh, hasilnya jauh lebih berharga daripada sekadar nilai di rapor.

0 Comments:
Posting Komentar
Punya pendapat, pengalaman, atau pertanyaan seputar topik ini?
Silakan tinggalkan komentar yang relevan dengan artikel.
Komentar yang berkualitas membantu diskusi semakin hidup dan bisa jadi tambahan insight buat pembaca lain.
🚫 Mohon hindari link aktif, spam, atau promosi berlebihan. Semua komentar akan dimoderasi dulu sebelum tampil.
🙏 Terima kasih sudah ikut berbagi ide di blog ini PKL SUSU. Diskusi sehat = ilmu makin luas.